Halo semuanya, Kembali lagi bersama Teknoblog di Inzaghi's Blog! Beberapa hari yang lalu, Resmi Rupiah Indonesia (IDR) melemah lagi dan Cetak Rekor sampai Tembus Rp. 17.500 per Dolar AS (USD). Penyebabnya bermacam-macam, dan salah satu pemicunya adalah karena Konflik yang terjadi di Timur Tengah saat ini (Terutama di Iran). Lantas, apakah Penyebab mengapa Rupiah melemah dan Dolar AS menguat? Mari kita bahas pada Artikel ini.
Sumber Artikel : Kompas.id, CNBC Indonesia, Ekonomi.Bisnis.com, Kumparan.com (Ekonom Jelaskan Penyebab Rupiah Melemah di Kisaran Rp 17.170 per Dolar AS), dan Kumparan.com (Analis Jelaskan Penyebab Rupiah Terpuruk ke Rp 17.500-an per Dolar AS)
BERITA
Nilai Tukar Rupiah masih berada dalam tren pelemahan. Setelah sempat mengalami penguatan tipis, mata uang Indonesia kembali menyentuh titik terlemah sepanjang sejarah dengan berada di kisaran Rp. 17.500 per dolar AS. Kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor global maupun domestik.
Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada Selasa Siang (12/5/2026 | 24/11/1447) diperdagangkan sekitar Rp. 17.512 per Dolar AS. Nilai tersebut melemah sekitar 0,56% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp. 17.414 per dolar AS.
Sejak konflik Timur Tengah pecah pada akhir Februari, rupiah tercatat telah melemah sekitar 7%. Di saat bersamaan, dolar AS semakin menguat karena banyak investor beralih ke aset safe haven. Analis mata uang senior MUFG, Lloyd Chan, menyebut kerentanan Indonesia semakin besar akibat cadangan minyak mentah nasional yang relatif terbatas, terutama karena kapasitas penyimpanan yang belum memadai.
Pelemahan rupiah sebenarnya sudah berlangsung secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir. Mata uang Garuda sempat menembus level Rp. 17.000 per dolar AS pada pekan sebelumnya sebelum akhirnya jatuh ke rekor baru Rp. 17.500 per dolar AS.
Sementara itu, peso Filipina juga mengalami tekanan dengan penurunan 0,9% selama tiga sesi perdagangan berturut-turut. Namun, sejak perang di Timur Tengah dimulai, pelemahan peso tercatat sekitar 5%, masih lebih rendah dibandingkan depresiasi rupiah.
![]() |
| Infografis Perkembangan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS (1998 - April 2026) (Sumber Infografis : Kompas.id) |
Di sisi lain, penguatan dolar AS juga tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebesar 1,9 basis poin menjadi 4,429 persen. Indeks dolar AS (DXY) pun naik 0,3 persen ke level 98,274. Menurut laporan The Wall Street Journal, penguatan dolar dipicu meningkatnya ketidakpastian geopolitik akibat kebuntuan gencatan senjata antara AS dan Iran, sehingga permintaan terhadap dolar sebagai aset aman kembali meningkat.
"Ketidakpastian geopolitik yang kembali memanas mendorong Harga Minyak lebih tinggi, memperkuat kekhawatiran atas tekanan inflasi yang persisten," kata Abdelaziz Albogdady, manajer riset pasar dan strategi fintech dari FXEM, dikutip The Wall Street Journal. Analis ING Francesco Pesole juga menyoroti bahwa pergerakan dolar belakangan ini sangat erat kaitannya dengan dinamika pasar saham. "Hari-hari baik bagi dolar pada umumnya bertepatan dengan hari-hari buruk bagi pasar saham belakangan ini," ujarnya.
Di waktu bersamaan, lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan risiko inflasi sekaligus menambah tekanan terhadap kondisi fiskal negara, terutama apabila beban subsidi energi ikut membengkak.
Tekanan terhadap fiskal menjadi perhatian serius karena Defisit APBN tengah berada dalam sorotan pasar. Pada 2025, defisit anggaran tercatat mencapai Rp. 695,1 Triliun atau sekitar 2,92% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Meski demikian, angka tersebut masih berada di bawah ambang batas defisit yang diatur dalam undang-undang, yakni maksimal 3% terhadap PDB.
Memasuki tahun 2026, tekanan fiskal belum mereda. Sepanjang kuartal I-2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp. 240,1 Triliun atau sekitar 0,93% dari PDB. Nilai itu meningkat cukup signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, ketika defisit kuartal I-2025 berada di angka Rp. 104,2 triliun atau 0,43% terhadap PDB.
Situasi tersebut membuat pelaku pasar mulai mempertanyakan kemampuan pemerintah dalam menjaga rasio defisit APBN agar tetap berada di bawah batas 3% terhadap PDB selama Tahun 2026.
Sorotan Lembaga Internasional
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, risiko di pasar keuangan domestik tidak semata-mata datang dari faktor eksternal. Catatan dari lembaga internasional, seperti dari MSCI terhadap pasar saham Indonesia, juga berdampak bagi perkembangan nilai tukar.
Selain itu, penurunan proyeksi peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s Ratings dan Fitch Ratings pada awal tahun ini turut memengaruhi selera risiko (risk appetite) investor global terhadap pasar saham dan obligasi domestik. Salah satu aspek utama yang disorot ialah kredibilitas kebijakan pemerintah.
Di sisi lain, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai tekanan pada pasar keuangan domestik tidak hanya dipicu faktor global. Penilaian dari lembaga internasional, termasuk MSCI terhadap pasar saham Indonesia, turut memberi pengaruh terhadap pergerakan nilai tukar rupiah.
Rencananya, pengumuman hasil review MSCI itu akan disampaikan pada Selasa (12/5/2026 | 24/11/1447) Malam waktu Central European Summer Time (CEST) atau Rabu (13/5/2026 | 25/11/1447) Pagi WIB.
Selain itu, revisi penurunan Outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s Ratings dan Fitch Ratings pada awal tahun juga dinilai memengaruhi minat investor global terhadap instrumen saham dan obligasi domestik. Salah satu faktor yang menjadi perhatian utama adalah tingkat kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah.
”Rentetan dari risiko-risiko global, ditambah lagi penilaian atau peringatan dari lembaga-lembaga terhadap Indonesia ini memberikan dampak yang cukup masif kepada risk appetite dari investor asing, khususnya terhadap aset-aset berdenominasi rupiah,” ujar Josua dalam Permata Institute for Economic Research (PIER) Economic Review Kuartal Pertama 2026 secara daring.
Josua memperkirakan Rupiah masih berpotensi bergerak lemah dalam waktu dekat. Kondisi tersebut turut dipengaruhi faktor musiman, khususnya pembayaran dividen perusahaan yang meningkatkan kebutuhan terhadap dolar AS selama Triwulan II 2026.
Untuk meredam tekanan terhadap rupiah, Bank Indonesia telah menyiapkan tujuh strategi stabilisasi nilai tukar. Langkah tersebut mencakup intervensi besar-besaran di pasar valuta asing, menarik arus modal asing melalui instrumen Surat Berharga Bank Indonesia (SRBI), serta pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.
PENYEBABNYA
Sumber : Sahabat.Pegadaian.co.id
Ekonom Maybank, Myrdal Gunarto, menilai pelemahan rupiah dalam beberapa hari terakhir terutama disebabkan tingginya permintaan valuta asing (valas) di pasar domestik yang melampaui ketersediaan pasokan.
Menurut Myrdal, kondisi tersebut membuat nilai tukar rupiah tertekan karena kebutuhan terhadap mata uang asing jauh lebih besar dibanding suplai valas yang ada di pasar.
Ia menjelaskan bahwa lonjakan permintaan valas dipicu oleh sejumlah faktor utama. Salah satunya adalah aksi jual yang dilakukan investor asing di pasar keuangan domestik, di mana dana hasil penjualan aset berbasis rupiah kemudian dikonversi ke mata uang asing.
Selain itu, kebutuhan devisa juga meningkat karena adanya pembayaran dividen kepada investor asing di tengah musim pembagian dividen emiten yang sedang berlangsung.
Myrdal menambahkan, investor asing yang memperoleh dividen dari investasinya di pasar saham Indonesia pada akhirnya akan mengirimkan dana tersebut ke luar negeri. Proses itu membuat rupiah harus ditukarkan terlebih dahulu ke valuta asing, sehingga tekanan terhadap nilai tukar semakin besar.
1. Ketidakstabilan Timur Tengah Mendorong Penguatan Dolar AS dan Kenaikan Harga Minyak
Salah satu faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah adalah meningkatnya ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum sepenuhnya mereda kembali memicu kehati-hatian di kalangan pelaku pasar global.
Perhatian investor kembali tertuju pada pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang mempertanyakan keberlangsungan gencatan senjata antara AS dan Iran serta menolak proposal perdamaian terbaru yang diajukan Teheran.
Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah muncul laporan bahwa Trump berencana mengadakan pertemuan dengan tim keamanan nasional untuk membahas kemungkinan dilanjutkannya operasi militer. Selain itu, rencana pengawalan kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz juga menjadi sorotan.
Sebagai salah satu jalur distribusi minyak paling strategis di dunia, setiap ketegangan yang terjadi di Selat Hormuz berpotensi menimbulkan gangguan pasokan energi global dan memicu reaksi pasar internasional.
Situasi tersebut memberikan tekanan terhadap rupiah melalui dua jalur utama.
Pertama, meningkatnya minat investor terhadap dolar AS sebagai aset safe haven. Ketika ketidakpastian global meningkat, investor cenderung mengalihkan dana mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS. Akibatnya, indeks dolar AS (DXY) kembali menguat hingga mencapai level 98,117 pada perdagangan pagi hari.
Di sisi lain, mata uang negara berkembang seperti rupiah menjadi lebih rentan terhadap tekanan. Penguatan dolar AS secara global mempersempit peluang penguatan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Kedua, konflik yang berkepanjangan turut menjaga harga minyak dunia tetap tinggi. Pada perdagangan pagi ini, harga minyak mentah Brent tercatat naik 0,95% menjadi US$105,2 per barel, sementara minyak WTI menguat 1% ke level US$99 per barel.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak menjadi sentimen negatif tambahan terhadap nilai tukar rupiah. Harga energi yang lebih mahal berpotensi meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor minyak dan produk energi lainnya.
Selain itu, lonjakan harga minyak juga berisiko meningkatkan inflasi serta memperbesar tekanan terhadap anggaran negara, terutama jika pemerintah harus menambah alokasi subsidi energi.
Kondisi fiskal menjadi perhatian karena defisit APBN saat ini sedang mendapat sorotan cukup besar. Pada tahun 2025, defisit APBN tercatat mencapai Rp695,1 triliun atau sekitar 2,92% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Meskipun masih berada di bawah batas maksimal defisit yang ditetapkan undang-undang, yaitu 3% dari PDB, ruang fiskal pemerintah dinilai semakin terbatas.
Memasuki tahun 2026, tekanan tersebut masih berlanjut. Pada kuartal pertama 2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp240,1 triliun atau setara 0,93% dari PDB. Angka ini meningkat cukup signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada pada level Rp.104,2 triliun atau 0,43% dari PDB.
Perkembangan tersebut membuat pelaku pasar mulai mempertanyakan kemampuan pemerintah dalam menjaga defisit anggaran agar tetap berada di bawah ambang batas 3% dari PDB sepanjang tahun 2026.
2. Ekspektasi Suku Bunga AS Tetap Tinggi dalam Jangka Waktu Lebih Lama
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin meningkat karena tingginya harga minyak dunia berpotensi memengaruhi kebijakan moneter Amerika Serikat, khususnya yang ditetapkan oleh Federal Reserve.
Kenaikan harga energi dapat memicu inflasi yang lebih sulit dikendalikan di AS. Jika laju inflasi tetap berada pada level tinggi, pasar akan semakin percaya bahwa suku bunga acuan AS perlu dipertahankan pada level tinggi untuk periode yang lebih panjang.
Situasi tersebut membuat instrumen investasi berbasis dolar AS tetap menjadi pilihan menarik bagi investor internasional. Dampaknya, aliran modal ke negara-negara berkembang berpotensi melambat sehingga mata uang seperti rupiah semakin sulit memperoleh momentum penguatan.
Saat ini, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada rilis data inflasi konsumen AS periode April. Data tersebut dinilai penting karena dapat memberikan gambaran mengenai sejauh mana konflik Iran berdampak terhadap perekonomian Amerika Serikat sekaligus menjadi petunjuk arah kebijakan moneter The Fed ke depan.
Apabila data inflasi menunjukkan tekanan harga yang masih kuat, maka harapan pasar terhadap penurunan suku bunga The Fed kemungkinan akan kembali tertunda. Kondisi ini dapat memperpanjang tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
3. Dampak Psikologis Akibat Tembusnya Level Kritis Rupiah
Selain dipengaruhi faktor eksternal, pelemahan rupiah juga diperburuk oleh sentimen psikologis di pasar. Tembusnya level Rp17.500 per dolar AS menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap mata uang Indonesia masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Dalam perdagangan valuta asing, level psikologis memiliki peran yang cukup besar. Ketika batas tersebut berhasil dilewati, pelaku pasar umumnya akan mengambil sikap yang lebih berhati-hati dan defensif.
Akibatnya, permintaan terhadap dolar AS cenderung meningkat, baik untuk kebutuhan transaksi bisnis, strategi lindung nilai (hedging), maupun sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan pelemahan rupiah yang lebih dalam.
Situasi ini semakin menarik perhatian karena sebelumnya rupiah baru saja melewati level Rp17.400 per dolar AS pada pekan lalu. Namun dalam waktu yang relatif singkat, nilai tukar kembali melemah hingga menembus level Rp17.500 per dolar AS.
Tertembusnya dua batas psikologis penting hanya dalam kurun waktu sekitar satu minggu menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah berlangsung cukup cepat dan intens. Kondisi tersebut juga dapat memperkuat pandangan pasar bahwa tren pelemahan mata uang Garuda masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat.
In this Economy, memang Harga apapun serba Naik, sehingga menjadi lebih mahal.
Terima Kasih 😄😊👌👍 :)
Wassalammu‘alaikum wr. wb.
%20dan%20Rupiah%20(IDR).png)
%20%5BKompas.id%5D.webp)