💪 Self Efficacy: Pengeritan, Tujuan, Fungsi, hingga Manfaat dan Cara Melatihnya

Assalamu‘alaikum wr. wb.

Hello guys! Self Efficacy atau Efikasi Diri merupakan salah satu Softskills yang diperlukan saat Karier. Kali ini kita akan membahas mengenai apa itu Self Efficacy.

Self Efficacy: Pengeritan, Tujuan, Fungsi, hingga Manfaat dan Cara Melatihnya

Sumber Artikel : Gramedia.comVerywellmind.comPositivepsychology.comGreatnusa.com, dan Alodokter.com

Self-efficacy adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri untuk menyelesaikan suatu tugas atau mencapai tujuan tertentu. Konsep ini mencakup rasa percaya diri dalam mengendalikan perilaku, memengaruhi lingkungan sekitar, serta menjaga motivasi saat berusaha meraih target yang diinginkan. Tingkat self-efficacy dapat berbeda-beda tergantung pada konteksnya, seperti dalam pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial, maupun aspek penting lainnya dalam kehidupan.

Self-efficacy memiliki peran krusial karena memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri dan menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan hidup. Konsep ini merupakan bagian inti dari teori kognitif sosial yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Dalam teorinya, Bandura menekankan pentingnya pembelajaran melalui pengamatan (observational learning), pengalaman sosial, serta determinisme resiprokal dalam membentuk kepribadian seseorang.

A. Pengertian Self Efficacy

Self-efficacy atau efikasi diri merupakan persepsi individu mengenai kemampuannya untuk melaksanakan tindakan yang dianggap penting demi mencapai tujuan tertentu. Konsep ini mencakup keyakinan bahwa seseorang mengetahui langkah yang perlu diambil serta memiliki kesiapan emosional untuk melakukannya.

Menurut Woolfolk (2004), self-efficacy adalah penilaian spesifik terhadap kompetensi diri dalam menyelesaikan tugas tertentu. Sementara itu, Bandura (1997) menyatakan bahwa keyakinan seseorang terhadap kemampuannya akan memengaruhi bagaimana ia merespons situasi atau kondisi yang dihadapi.

Secara umum, efikasi diri dapat dipahami sebagai kepercayaan individu terhadap kapasitas dirinya untuk melakukan suatu tindakan, menghasilkan sesuatu, mengatur langkah-langkah yang diperlukan, mencapai tujuan, serta menerapkan keterampilan tertentu.

Singkatnya, self-efficacy adalah keyakinan pada kemampuan diri sendiri—yakni rasa percaya diri dalam menyelesaikan tugas atau tantangan tertentu.

Pengertian Self Efficacy Menurut Para Ahli

Berikut ini adalah beberapa Pengertian Self Efficacy menurut para Ahli.

1. Bandura (1986)

Self efficacy adalah suatu kepercayaan diri terhadap kemampuan dirinya dalam melakukan sesuatu untuk mencapai kesuksesan.

2. Stipek (2001)

Efikasi diri merupakan sebuah kepercayaan atau keyakinan terhadap kemampuan yang dimiliki diri sendiri.

3. Santrock (2007)

Self efficacy merupakan keyakinan seseorang terhadap kemampuan yang mereka miliki dalam menguasai kondisi dan situasi serta menghasilkan sesuatu yang menguntungkan bagi mereka.

4. Niu (2020)

Efikasi diri adalah hasil dari sebuah interaksi antara lingkungan eksternal, kemampuan personal, mekanisme penyesuaian diri, dan pendidikan serta pengalaman.

B. Ciri-ciri Individu yang Mempunyai Self Efficacy

Dalam konsep self-efficacy, terdapat perbedaan tingkat keyakinan diri pada setiap individu. Ada yang memiliki efikasi diri tinggi, sementara yang lain berada pada tingkat yang lebih rendah.

Meskipun demikian, apabila kamu merasa memiliki tingkat kepercayaan diri yang kuat, penting untuk tetap menyeimbangkannya dengan sikap rasional. Keyakinan yang disertai pertimbangan logis akan membantu menjaga keseimbangan diri agar tidak berlebihan.

Selain itu, penting juga memahami karakteristik individu dengan efikasi diri yang sehat dan proporsional. Beberapa cirinya antara lain :

  • Memiliki komitmen yang konsisten terhadap minat dan aktivitas yang dijalankan.
  • Mampu bangkit dengan relatif cepat dari rasa kecewa atau kegagalan.
  • Dapat mengembangkan minat sehingga aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan.
  • Memandang tantangan sebagai sesuatu yang perlu dihadapi dan dikuasai.

Di sisi lain, terdapat pula tanda-tanda individu dengan efikasi diri rendah, di antaranya :

  • Cenderung terpaku pada kemungkinan gagal dan lebih fokus pada aspek negatif.
  • Mudah kehilangan rasa percaya diri.
  • Menganggap tugas yang sulit sebagai sesuatu yang berada di luar kemampuannya.
  • Sering menghindari situasi atau tantangan yang dianggap menantang.

C. Perbandingan Self Eficancy dengan yang Lain

Self-efficacy adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri, khususnya dalam menghadapi tantangan dan menyelesaikan tugas dengan berhasil (Akhtar, 2008). Self-efficacy umum merujuk pada kepercayaan menyeluruh bahwa kita mampu meraih keberhasilan. Namun, terdapat pula bentuk yang lebih spesifik, seperti self-efficacy akademik, dalam pengasuhan, olahraga, dan berbagai bidang lainnya.

Walaupun self-efficacy berkaitan dengan rasa harga diri atau nilai diri sebagai manusia, keduanya memiliki perbedaan mendasar.

1. Self-Efficacy vs. Self-Esteem

Self-esteem dipahami sebagai penilaian umum terhadap nilai atau harga diri seseorang (Neill, 2005). Jika self-esteem lebih menekankan pada aspek “being”—yakni merasa diri berharga dan dapat menerima diri apa adanya—maka self-efficacy berfokus pada aspek “doing”, yaitu keyakinan bahwa kita mampu menghadapi tantangan dan menyelesaikan tugas.

Memiliki harga diri yang tinggi dapat memperkuat self-efficacy, begitu pula sebaliknya. Namun, keduanya tetap merupakan konstruksi psikologis yang berbeda dan tidak dapat disamakan.

2. Self-Efficacy vs. Self-Regulation

Karena self-efficacy berkaitan dengan kemampuan mengendalikan diri dan mengarahkan perilaku demi mencapai tujuan, konsep ini sering kali disamakan dengan self-regulation. Padahal, keduanya tidak identik.

Self-regulation mengacu pada pikiran, perasaan, dan tindakan yang dihasilkan secara sadar untuk memengaruhi proses belajar seseorang (Schunk & Zimmerman, 2007). Sementara itu, self-efficacy lebih berkaitan dengan persepsi individu terhadap kemampuannya sendiri.

Dengan kata lain, self-regulation adalah strategi atau proses untuk mencapai tujuan—terutama dalam konteks pembelajaran—sedangkan self-efficacy adalah keyakinan bahwa tujuan tersebut dapat dicapai. Keduanya bisa berkembang secara bersamaan, misalnya melalui proses modeling, tetapi tetap merupakan konsep yang terpisah.

3. Self-Efficacy dan Motivasi

Self-efficacy dan motivasi juga memiliki hubungan yang erat, namun bukan hal yang sama. Self-efficacy berakar pada keyakinan akan kemampuan diri, sedangkan motivasi didasarkan pada dorongan atau keinginan untuk mencapai sesuatu. Individu dengan self-efficacy tinggi sering kali memiliki motivasi yang kuat, tetapi hubungan ini tidak selalu otomatis.

Ketika seseorang mengalami keberhasilan—meskipun kecil—hal tersebut biasanya meningkatkan self-efficacy sekaligus mendorong motivasi untuk terus belajar dan berkembang (Mayer, 2010). Hubungan ini juga bisa berjalan sebaliknya: motivasi yang tinggi meningkatkan peluang keberhasilan, dan keberhasilan tersebut memperkuat keyakinan diri, membentuk siklus keberhasilan yang berkelanjutan.

4. Self-Efficacy dan Resiliensi

Walaupun keberhasilan berperan besar dalam membangun self-efficacy, kegagalan juga menjadi bagian dari proses tersebut.

Individu dengan tingkat self-efficacy tinggi tidak hanya lebih mungkin meraih keberhasilan, tetapi juga lebih mampu bangkit setelah mengalami kegagalan. Kemampuan untuk pulih dan terus maju inilah yang menjadi inti dari resiliensi, dan penguatan self-efficacy berkontribusi besar dalam membangun daya lenting tersebut.

D. Fungsi Self Efficacy

Self-efficacy memiliki tiga peran utama yang memengaruhi individu dalam proses mencapai tujuan pribadinya. Berikut penjelasan mengenai ketiga fungsi tersebut:

1. Fungsi Kognitif

Fungsi kognitif berkaitan dengan proses berpikir seseorang. Tingkat efikasi diri memengaruhi standar tujuan yang ditetapkan individu. Mereka yang memiliki self-efficacy tinggi cenderung menetapkan target yang lebih menantang serta memperkuat komitmennya melalui perencanaan yang matang dan konsisten.

2. Fungsi Afektif

Fungsi afektif berhubungan dengan kemampuan mengelola emosi, khususnya saat menghadapi tekanan, stres, atau situasi sulit. Self-efficacy membantu individu menjaga kestabilan emosi agar tingkat stres tidak berlebihan. Menurut Bandura, keyakinan terhadap kemampuan diri juga berperan dalam mengatur perilaku sehingga individu dapat mengurangi rasa cemas yang muncul.

3. Fungsi Motivasi

Fungsi motivasional berperan dalam mendorong individu untuk menggerakkan dirinya secara sadar menuju tujuan yang ingin dicapai. Seseorang perlu membangun dorongan internal serta menanamkan gambaran masa depan yang diharapkan. Motivasi yang didukung oleh self-efficacy akan memperkuat keyakinan terhadap keberhasilan, membantu menyusun rencana tindakan, serta mendorong realisasi tujuan yang telah ditetapkan.

E. Manfaat Self Efficacy Terhadap Pengembangan Karier

Self-Efficacy memberikan dampak signifikan dalam kehidupan, terutama dalam aspek pengembangan karier dan kesehatan psikologis. Berikut beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari tingkat efikasi diri yang baik :

1. Meningkatkan Kinerja Profesional

Individu dengan self-efficacy tinggi cenderung menunjukkan performa kerja yang lebih optimal. Keyakinan terhadap kemampuan diri mendorong penyelesaian tugas secara maksimal, yang pada akhirnya dapat membuka peluang promosi dan mendukung kemajuan karier.

2. Mendukung Prestasi Akademik

Dalam proses mempelajari keterampilan baru atau menempuh pendidikan formal, efikasi diri berperan penting. Keyakinan pada kemampuan diri membantu dalam menetapkan target, menyusun strategi, serta menyelesaikan studi dengan lebih terarah. Keberhasilan akademik ini turut berkontribusi terhadap perkembangan karier di masa depan.

3. Mengelola Stres dan Rasa Takut

Self-efficacy yang kuat memengaruhi cara seseorang memandang situasi penuh tekanan. Alih-alih merasa ragu, individu menjadi lebih percaya diri dalam mencari solusi dan menghadapi tantangan. Hal ini membantu menekan tingkat stres sekaligus mengurangi rasa takut karena memilih untuk menghadapi masalah secara langsung.

4. Meningkatkan Kesehatan Mental

Secara keseluruhan, efikasi diri yang tinggi berkontribusi pada kondisi mental yang lebih stabil dan sehat. Individu lebih mampu menghindari tekanan berlebihan yang berpotensi berkembang menjadi depresi. Dengan sudut pandang yang lebih positif, kesejahteraan dan kebahagiaan pun cenderung meningkat.

F. Cara Melatih Self-Efficacy

Apabila kamu merasa tingkat self-efficacy masih rendah hingga menyulitkan pencapaian tujuan hidup, aspirasi pribadi, atau target pekerjaan, tidak perlu berkecil hati. Efikasi diri bukanlah sesuatu yang statis—ia dapat dibangun dan dikembangkan melalui latihan yang konsisten.


Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan self-efficacy:

1. Belajar dari Kegagalan

Mencapai efikasi diri yang kuat sering kali diawali oleh proses panjang yang mencakup berbagai kegagalan. Keberhasilan umumnya lahir dari pengalaman mencoba, salah, lalu memperbaiki diri. Ketika menghadapi kegagalan, jangan menjadikannya alasan untuk menyerah. Gunakan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi dan pembelajaran agar strategi di masa depan menjadi lebih matang. Ketekunan dalam menghadapi hambatan inilah yang pada akhirnya memperkuat keyakinan bahwa setiap usaha memiliki peluang untuk menghasilkan keberhasilan. Perlu diingat, hampir semua individu sukses pernah mengalami kegagalan.

2. Mengamati Keberhasilan Orang Lain (Social Modeling)

Menyaksikan pencapaian orang lain, terutama yang memiliki latar belakang serupa, dapat meningkatkan keyakinan terhadap kemampuan diri. Fenomena ini dikenal sebagai social modeling. Misalnya, ketika rekan kerja berhasil memperoleh promosi, hal tersebut dapat memicu keyakinan bahwa kamu pun mampu meraih hal yang sama. Alih-alih merasa iri, lebih baik pelajari faktor yang mendukung keberhasilan mereka dan adaptasikan strategi tersebut dalam perjalananmu sendiri.

3. Mencari Umpan Balik yang Konstruktif

Dukungan dan masukan positif dari orang terdekat—seperti keluarga atau sahabat—dapat membantu memperkuat rasa percaya diri. Umpan balik yang jujur dan membangun memberi perspektif objektif mengenai perkembangan diri. Sebagai contoh, ketika menjalani program diet atau pengembangan diri, tanggapan positif dari lingkungan sekitar dapat meningkatkan motivasi sekaligus mempertegas keyakinan bahwa upaya yang dilakukan berada di jalur yang tepat.

4. Mengelola Pikiran dan Emosi

Penguatan self-efficacy juga menuntut kemampuan mengendalikan pikiran, emosi, dan stres. Hindari membiarkan asumsi negatif mengganggu fokus dan produktivitas. Saat menghadapi situasi menegangkan, seperti ujian atau evaluasi kerja, praktikkan self-talk positif untuk menumbuhkan rasa yakin. Kalimat afirmatif sederhana dapat membantu menenangkan kecemasan dan menjaga performa tetap optimal.

Namun demikian, penting untuk menjaga keseimbangan. Self-efficacy yang terlalu tinggi berisiko menimbulkan rasa percaya diri berlebihan, bahkan sikap arogan. Kondisi ini dapat menghambat kemauan untuk terus belajar dan berkembang. Oleh karena itu, keyakinan terhadap kemampuan diri sebaiknya tetap disertai sikap rendah hati agar pertumbuhan pribadi berlangsung secara sehat dan berkelanjutan.


Itulah Pembahasan mengenai Self Efficacy, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Terima Kasih 😄😘👌👍 :)

Wassalamu‘alaikum wr. wb.

Post a Comment

Previous Post Next Post