Assalammu‘alaikum wr. wb.
Hello guys, apa kabarmu hari ini? Sejak Awal 2026 ini, setelah Amerika Serikat menyerang Negara dan Presiden Venezuela, kini Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali menyerang Iran hingga menyebabkan Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei Meninggal Dunia. Menariknya, Peristiwa ini juga terjadi di Bulan Suci Ramadhan 1447 H, sehingga juga mengganggu kenyamanan warganya yang sedang menjalankan Ibadah Puasa di Iran. Akibat dari Perperangan ini, adanya Isu-isu tentang Perang Dunia ke-3, hingga Dampak Krisis Ekonomi yang akan dihadapi.
SEJARAH & KRONOLOGI KONFLIK
![]() |
| Ilustrasi Serangan Udara Iran-Israel (2024) |
Sumber Artikel : Suara.com, News.Republika.co.id, dan CNBC Indonesia
A. Sejarah Konflik Iran-Israel
Iran kembali menghadapi peningkatan ketegangan di bidang politik dan keamanan. Pemerintah menuduh bahwa rangkaian aksi protes yang terjadi dipengaruhi oleh campur tangan pihak asing, sementara kelompok oposisi menilai negara masih mengandalkan pendekatan yang bersifat represif dalam menangani situasi tersebut. Kondisi ini menambah panjang daftar krisis yang telah mewarnai perjalanan Islamic Republic of Iran sejak berdirinya pada 1979.
Sejak peristiwa Iranian Revolution, Iran terus dihadapkan pada berbagai tantangan besar, mulai dari konflik bersenjata, sanksi internasional, ketegangan di kawasan Timur Tengah, hingga polemik terkait program nuklirnya yang membuat negara tersebut kerap menjadi sorotan dunia.
Berikut rangkaian linimasa perkembangan Iran dari tahun 1979 hingga 2025 sebagaimana dilaporkan oleh Al Jazeera pada Rabu (14/1/2026 | 24/9/1447).
1979
Revolusi Islam mengubah arah sejarah Iran. Ayatollah Ruhollah Khomeini pulang dari pengasingan dan melalui referendum, Iran resmi menjadi republik Islam. Hubungan dengan Amerika Serikat runtuh setelah krisis sandera di Kedutaan Besar AS di Teheran, yang berujung pada sanksi pertama Washington terhadap Iran.
1980
Irak menginvasi Iran dan memicu perang delapan tahun yang menewaskan sekitar 500.000 orang. Iran menjadi pihak dengan korban terbesar dalam konflik yang juga diwarnai penggunaan senjata kimia oleh Irak.
1981
Krisis sandera AS berakhir setelah seluruh sandera dibebaskan. Namun, Iran diguncang teror politik internal. Serangan bom menewaskan puluhan elite negara, termasuk Kepala Kehakiman Mohammad Beheshti, disusul pembunuhan Presiden Mohammad-Ali Rajai dan Perdana Menteri Mohammad Javad Bahonar.
1982
Iran mulai memperluas pengaruh regional dengan mendukung kelompok yang kelak dikenal sebagai Hizbullah, menyusul invasi Israel ke Lebanon.
1988
Pesawat sipil Iran Air ditembak jatuh kapal perang AS USS Vincennes di Teluk Persia, menewaskan seluruh 290 penumpang. Pada tahun yang sama, Iran dan Irak menyepakati gencatan senjata yang dimediasi PBB.
1989
Ayatollah Khomeini wafat. Majelis Pakar menunjuk Ayatollah Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.
1990
Gempa bumi besar melanda Iran dan menewaskan sekitar 40.000 orang, memperparah tekanan sosial dan ekonomi pasca perang.
1995
Amerika Serikat (AS) memperketat sanksi dengan melarang perdagangan dan investasi minyak Iran, dengan tudingan dukungan terhadap terorisme dan ambisi nuklir.
1998
Taliban mengakui pembunuhan delapan diplomat Iran dan seorang jurnalis di Afghanistan. Iran mengerahkan pasukan besar ke perbatasan, nyaris memicu perang terbuka.
2002
Presiden AS George W. Bush memasukkan Iran ke dalam "poros kejahatan" bersama Irak dan Korea Utara, meningkatkan ketegangan diplomatik.
2003
Invasi AS ke Irak membuka babak baru pengaruh Iran di kawasan. Teheran mulai mendukung milisi dan kelompok politik Syiah. Di tahun yang sama, Iran menangguhkan pengayaan uranium dan membuka akses inspeksi PBB. IAEA menyatakan tidak menemukan bukti program senjata nuklir.
2006
Dewan Keamanan PBB menjatuhkan sanksi nuklir pertama terhadap Iran karena menolak menghentikan program pengayaannya.
2007
Amerika Serikat kembali menambah sanksi sepihak yang lebih keras terhadap sektor keuangan dan energi Iran.
2010
DK PBB memberlakukan sanksi tahap keempat, termasuk embargo senjata. Iran juga menuduh AS dan Israel melancarkan serangan siber terhadap fasilitas nuklirnya melalui malware.
2011
Iran terlibat langsung dalam konflik Suriah dengan mendukung rezim Bashar al-Assad melalui pengerahan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan milisi asing.
2012
Uni Eropa memboikot ekspor minyak Iran. Nilai tukar rial anjlok hingga kehilangan sekitar 80% nilainya terhadap dolar AS sejak 2011 akibat tekanan sanksi.
2015
Iran menandatangani kesepakatan nuklir JCPOA dengan AS dan negara-negara besar. Kesepakatan ini disambut perayaan publik karena diharapkan mengakhiri isolasi ekonomi.
2018
Presiden AS Donald Trump menarik negaranya dari JCPOA dan kembali memberlakukan sanksi keras terhadap Iran.
2020
Komandan Pasukan Quds IRGC, Qassem Soleimani, tewas dalam serangan drone AS di Baghdad, memicu eskalasi tajam di Timur Tengah.
2024
Serangan udara Israel menghantam kompleks Kedutaan Iran di Damaskus, menewaskan sejumlah perwira tinggi IRGC. Beberapa bulan kemudian, Presiden Iran Ebrahim Raisi meninggal dalam kecelakaan helikopter.
2025
Ketegangan memuncak menjadi perang terbuka. Israel menyerang Iran dan memicu konflik 12 hari yang menewaskan sedikitnya 610 warga Iran dan 28 warga Israel.
Seorang analis Timur Tengah mengatakan, "Sejak 1979, Iran hidup dalam kondisi krisis permanen. Tekanan eksternal justru memperkuat narasi perlawanan yang menjadi fondasi politik negara ini."
B. Kronologi Konflik Iran-Israel
![]() |
| Penampakan Rumah Ali Khamenei Pasca Serangan AS-Israel |
Ketegangan berkepanjangan di kawasan Middle East kembali meningkat tajam. Pada Sabtu, 28 Februari 2026 (10 Ramadan 1447 H) waktu setempat, United States bersama Israel melancarkan serangan udara skala besar ke sejumlah titik strategis di Iran, termasuk ibu kota Tehran. Ledakan keras terdengar di berbagai bagian kota dan diikuti oleh kepulan asap yang tampak dari sejumlah wilayah.
Operasi militer tersebut bukan sekadar serangan biasa. Pemerintah Amerika Serikat menamai misi ini Operation Epic Fury. Presiden AS, Donald Trump, menggambarkannya sebagai operasi tempur berskala besar yang masih terus berlangsung. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa serangan akan dilanjutkan selama dianggap perlu.
Lalu, apa yang melatarbelakangi serangan terhadap Iran oleh Israel dan Amerika Serikat? Berikut beberapa faktor yang memicu eskalasi tersebut.
1. Ledakan di Teheran dan Target Serangan
Menurut laporan Fars News Agency, beberapa ledakan terjadi di berbagai lokasi di Tehran sekitar pukul 09.27 waktu setempat. Dua dentuman besar terdengar di kawasan pusat serta timur kota. Serangan tersebut diduga menargetkan fasilitas yang berkaitan dengan program nuklir Iran, sistem rudal balistik, serta pusat komando Islamic Revolutionary Guard Corps.
Sejumlah laporan internasional juga menyebutkan bahwa rudal menghantam area di sekitar University Street, kawasan Jomhouri, hingga wilayah yang berdekatan dengan kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Tidak lama setelah Israel mengumumkan adanya “serangan pendahuluan”, Amerika Serikat mengonfirmasi keterlibatannya dalam operasi militer gabungan tersebut.
a. Akar Konflik: Dari Sekutu Jadi Musuh
Hubungan antara Iran dengan Amerika Serikat serta Israel sebenarnya tidak selalu bersifat permusuhan. Sebelum peristiwa Iranian Revolution, Iran yang dipimpin oleh Mohammad Reza Pahlavi merupakan sekutu penting Washington. Bahkan, program nuklir Iran awalnya berkembang melalui kerja sama dengan Amerika Serikat dalam program Atoms for Peace.
Situasi berubah drastis setelah revolusi yang dipimpin oleh Ruhollah Khomeini menggulingkan pemerintahan Shah pada 1979. Iran kemudian mendeklarasikan diri sebagai republik Islam yang secara ideologis menentang pengaruh Barat serta secara terbuka memandang Israel sebagai musuh. Sejak saat itu, hubungan ketiga negara dipenuhi ketegangan, khususnya terkait program nuklir Iran dan pengaruh geopolitiknya di kawasan.
b. Runtuhnya Negosiasi Nuklir
Pemicu langsung serangan pada 28 Februari 2026 (10 Ramadan 1447 H) disebut berasal dari runtuhnya perundingan nuklir yang berlangsung di Geneva. Hingga beberapa hari sebelumnya, mediator internasional masih melihat peluang kompromi, termasuk rencana pengurangan cadangan uranium Iran.
Namun pemerintahan Trump mengajukan sejumlah tuntutan tambahan, seperti pembongkaran permanen fasilitas nuklir di Fordow Fuel Enrichment Plant dan Natanz Nuclear Facility, penghentian penuh program rudal balistik, serta penghentian dukungan Iran terhadap kelompok seperti Hezbollah dan Hamas.
Pemerintah Tehran menolak tuntutan tersebut dengan tegas karena dianggap melanggar kedaulatan nasional. Sementara itu, Washington dan Tel Aviv menilai penolakan tersebut sebagai upaya Iran untuk membeli waktu guna memperkuat kapasitas militernya.
2. Faktor Domestik Iran yang Memanas
Situasi domestik Iran juga turut memperburuk kondisi. Sejak akhir 2025, berbagai kota di negara tersebut dilanda gelombang protes akibat krisis ekonomi dan melemahnya nilai tukar rial.
Penanganan keras oleh aparat keamanan memicu kritik dari komunitas internasional. Pada Januari 2026, Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan dukungan kepada para demonstran di Iran. Pernyataan tersebut semakin memperlebar ketegangan diplomatik antara kedua negara.
a. Eskalasi Sebelum Serangan
Ketegangan sebenarnya sudah meningkat sejak konflik yang dikenal sebagai “Perang 12 Hari” pada Juni 2025 antara Iran dan Israel.
Menjelang Februari 2026, Amerika Serikat mengerahkan dua kapal induk—USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford—ke kawasan Persian Gulf sebagai bentuk tekanan militer terhadap Iran. Pengerahan tersebut kemudian terbukti bukan sekadar langkah simbolis.
b. Respons Iran: Serangan Balasan
Iran tidak membutuhkan waktu lama untuk membalas. Militer Israel melaporkan bahwa sejumlah rudal diluncurkan dari Iran menuju wilayah utara Israel, memicu sirene peringatan serangan udara di beberapa kota.
Selain itu, Iran juga menargetkan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan, termasuk Al Udeid Air Base di Qatar, Camp Al-Salem di Kuwait, Al Dhafra Air Base di United Arab Emirates, serta markas United States Fifth Fleet di Bahrain.
Serangan balasan ini meningkatkan risiko meluasnya konflik menjadi perang regional yang melibatkan lebih banyak negara di Timur Tengah.
C. Latar Belakang Konflik AS-Israel Terhadap Iran
Penarikan diri Amerika Serikat dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama pada tahun 2018 berujung pada pemberlakuan kembali sanksi terhadap Iran dan pergeseran menuju penggunaan kekuatan alih-alih diplomasi dalam hubungan antara AS beserta sekutunya dengan Iran. Pemerintahan Trump mengadopsi strategi "tekanan maksimum". Pemberlakuan kembali sanksi AS berdampak sangat buruk pada perekonomian Iran. Nilai tukar rial Iran anjlok sebesar 20%, dari 35.000 per dolar menjadi 42.000 pada tahun 2021. Bank-bank internasional yang bertransaksi dengan Iran membayar denda yang besar. Semua perusahaan besar Eropa berhenti berbisnis dengan Iran karena takut akan sanksi dari AS. Sanksi tersebut mendorong jutaan warga Iran ke jurang kemiskinan dan menurunkan daya beli mereka terhadap barang-barang kebutuhan pokok impor seperti makanan dan obat-obatan sekaligus memicu inflasi, pengangguran, dan kerusakan infrastruktur.
Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terus meningkat sejak serangan 7 Oktober terhadap Israel dan pecahnya konflik Gaza pada 2023. Dalam periode tersebut, Israel berhasil melemahkan kelompok-kelompok yang didukung Iran di kawasan Timur Tengah, termasuk Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon. Kedua negara juga sempat saling melancarkan serangan pada April dan Oktober 2024, hingga akhirnya terlibat konflik singkat pada 2025 yang turut melibatkan serangan udara Amerika Serikat yang menargetkan fasilitas nuklir Iran.
Sejak akhir Desember 2025, Iran dilanda gelombang protes besar-besaran yang meluas secara nasional. Aksi ini dipicu oleh kondisi ekonomi yang memburuk, termasuk melemahnya nilai mata uang dan melonjaknya harga kebutuhan pokok. Demonstrasi yang menyerukan perubahan pemerintahan ini menjadi salah satu yang terbesar sejak revolusi 1979 dan menyebar ke lebih dari 100 kota. Pemerintah Iran menanggapi dengan tindakan represif yang disertai kekerasan, termasuk penindakan terhadap demonstran yang menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Perbedaan data korban pun muncul dari berbagai pihak, sementara laporan media internasional menyoroti penggunaan kekuatan berlebihan yang memicu keputusasaan masyarakat serta spekulasi mengenai kemungkinan intervensi asing. Sejumlah analis menilai kondisi tersebut mencerminkan kerentanan serius dalam stabilitas negara.
Pada pertengahan Januari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dukungan terhadap para demonstran di Iran. Tidak lama kemudian, ia mengumumkan pengerahan armada militer ke kawasan Timur Tengah, termasuk kapal induk dan kapal perusak. Amerika Serikat bersama sekutunya juga mengajukan sejumlah tuntutan utama kepada Iran, seperti penghentian pengayaan uranium secara permanen, pembatasan program rudal balistik, serta penghentian dukungan terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan. Di saat yang sama, perencanaan opsi serangan juga mulai dibahas melalui koordinasi dengan intelijen Israel.
Upaya diplomasi tetap berjalan di tengah meningkatnya ketegangan. Pada awal Februari 2026, Iran dan Amerika Serikat menggelar perundingan nuklir tidak langsung di Muskat, Oman, dengan rencana lanjutan di Jenewa. Iran menyatakan bahwa proses negosiasi masih memerlukan konsultasi lebih lanjut di tingkat nasional. Dalam periode tersebut, Iran juga meningkatkan ekspor minyak secara signifikan sekaligus mengurangi cadangan penyimpanan. Menjelang akhir Februari, muncul pernyataan dari pihak Oman yang menyebut adanya kemajuan penting dalam perundingan, termasuk komitmen Iran untuk tidak menimbun uranium yang diperkaya serta kesediaan menerima verifikasi penuh dari badan internasional. Iran juga dikabarkan siap menurunkan tingkat pengayaan uranium ke level serendah mungkin secara permanen.
Di sisi lain, Amerika Serikat terus meningkatkan tekanan militer dengan mengirimkan tambahan kapal induk ke Timur Tengah. Momentum ini bertepatan dengan peringatan revolusi Iran yang diwarnai demonstrasi pro-pemerintah dan retorika keras terhadap Amerika. Presiden Trump bahkan menyatakan bahwa perubahan rezim di Iran akan menjadi hasil terbaik, sementara pejabat militer AS dilaporkan tengah menyiapkan kemungkinan operasi jangka panjang yang menargetkan infrastruktur strategis Iran. Dalam pidato kenegaraan, Trump juga menuduh Iran kembali mengembangkan program senjata nuklir serta meningkatkan kemampuan rudalnya, yang disebut berpotensi mengancam wilayah Amerika dan sekutunya.
Menjelang akhir Februari, sejumlah klaim dari pemerintahan AS terkait program nuklir Iran memicu kontroversi karena dinilai tidak memiliki dasar kuat. Pernyataan tersebut dibantah oleh berbagai pihak, termasuk pejabat Amerika dan Eropa, lembaga pemantau internasional, serta badan intelijen. Beberapa analisis sebelumnya bahkan menyebut bahwa kemampuan Iran untuk mengembangkan rudal jarak jauh masih memerlukan waktu lama, sementara program nuklirnya sempat mengalami kemunduran akibat serangan sebelumnya. Namun demikian, laporan terbaru menyebutkan adanya temuan uranium yang sangat diperkaya yang disembunyikan di fasilitas bawah tanah yang tidak terdampak konflik sebelumnya, sehingga kembali meningkatkan kekhawatiran global.
UPDATE TERKINI
Sumber Artikel : CNBC Indonesia, Tribunnews.com, dan CNN Indonesia
A. Rangkuman Info Perang Iran Vs Israel-AS
Serangan besar yang dilancarkan oleh Israel terus menghantam ibu kota Iran, yaitu Tehran, pada hari ke-15 konflik antara Iran dan Israel yang turut melibatkan dukungan dari United States. Sebagai balasan, Iran juga terus meluncurkan serangan ke arah Tel Aviv di Israel.
Ketegangan tersebut turut berdampak pada jalur perdagangan energi dunia. Lalu lintas kapal di Strait of Hormuz terganggu sehingga memicu kenaikan harga minyak global. Di sisi lain, tekanan politik di Amerika Serikat juga meningkat karena anggota United States Congress serta berbagai organisasi masyarakat mulai menyuarakan penolakan terhadap keterlibatan perang.
Berikut rangkuman perkembangan terbaru dalam 24 jam terakhir di Iran, Amerika Serikat, Israel, Lebanon, serta sejumlah negara Timur Tengah lainnya sebagaimana dirangkum oleh Inzaghi's Blog pada Sabtu, 14 Maret 2026 (24 Ramadan 1447 H).
1. Perkembangan di Iran
Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang diangkat setelah kematian ayahnya Ali Khamenei, menyampaikan pernyataan publik pertamanya. Ia menegaskan bahwa serangan terhadap Israel serta aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah akan terus berlanjut apabila pangkalan militer AS di wilayah tersebut tidak ditutup.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan keyakinannya bahwa Khamenei mengalami luka serius. Ia bahkan menyebut kemungkinan adanya cacat permanen pada pemimpin baru Iran tersebut.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa ia merasa “sangat terhormat” atas operasi yang menewaskan para pemimpin Iran dan menyebut mereka sebagai pihak yang berbahaya.
Sebuah ledakan juga terjadi di dekat aksi demonstrasi pro-pemerintah di Tehran yang dihadiri sejumlah pejabat tinggi, termasuk Ali Larijani, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Insiden tersebut menewaskan sedikitnya satu orang di tengah gelombang serangan baru antara Iran dan Israel.
Pemerintah Iran berjanji akan memberikan “pelajaran yang tidak terlupakan” kepada Amerika Serikat dan Israel. Selain itu, Islamic Revolutionary Guard Corps (Garda Revolusi) memperingatkan bahwa setiap bentuk protes domestik akan ditindak lebih keras dibandingkan sebelumnya.
Menurut Kementerian Kesehatan Iran, sejak 28 Februari sedikitnya 1.444 orang tewas dan 18.551 lainnya mengalami luka akibat serangan gabungan AS dan Israel. Korban berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari bayi berusia delapan bulan hingga lansia berusia 88 tahun.
2. Situasi di Negara-Negara Teluk
Iran juga meluncurkan serangkaian drone dan rudal ke negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer atau aset Amerika Serikat. Selain itu, beberapa kapal tanker minyak dan fasilitas energi turut menjadi sasaran serangan.
Di Oman, dua orang dilaporkan tewas setelah pasukan keamanan menembak jatuh sebuah drone di dekat kawasan industri di wilayah utara negara tersebut.
Bahrain menyatakan telah berhasil mencegat 114 Rudal dan 190 drone sejak konflik dimulai pada 28 Februari.
Sementara itu, Saudi Arabia mengumumkan telah menembak jatuh 10 drone di wilayah timurnya serta menghancurkan 28 drone lain yang memasuki wilayah udara negara tersebut.
United Arab Emirates mengecam keras serangan Iran yang dilaporkan mengenai Dubai International Airport dan beberapa hotel di kawasan tersebut.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Australia memerintahkan pejabat non-esensialnya untuk meninggalkan Uni Emirat Arab dan Israel, serta mengimbau warganya untuk segera keluar dari kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, Qatar menutup wilayah udaranya, meskipun Qatar Airways tetap mengoperasikan lebih dari 140 penerbangan khusus guna membantu evakuasi warga dan penduduk yang terjebak.
Pemerintah Qatar juga membantah tuduhan media Israel yang menyatakan bahwa negara tersebut sengaja menghentikan produksi gas alam cair (LNG) untuk memengaruhi harga energi AS. Menurut pejabat Qatar, penghentian produksi tersebut terjadi akibat serangan drone Iran.
3. Situasi di Amerika Serikat
Amerika Serikat berencana mengirimkan unit ekspedisi Marinir yang terdiri dari sekitar 2.200 personel dari Okinawa, Japan, ke kawasan Timur Tengah. Penempatan ini bertujuan mendukung operasi militer sekaligus mengantisipasi kemungkinan misi evakuasi.
Di dalam negeri, penolakan terhadap perang juga semakin kuat. Lebih dari 250 organisasi di Amerika Serikat menandatangani surat terbuka yang mendesak United States Congress untuk menghentikan pendanaan konflik tersebut. Mereka menilai dana sebesar 11,3 miliar dolar yang dihabiskan dalam enam hari pertama perang seharusnya dialokasikan untuk kebutuhan domestik seperti bantuan pangan.
Senator Lindsey Graham menyatakan kecil kemungkinan AS mengirim pasukan darat ke Iran. Namun ia memperkirakan konflik ini masih akan berlangsung cukup lama.
Untuk memperkuat pertahanan udara, Angkatan Darat AS mengerahkan sekitar 10.000 drone pencegat Merops ke Timur Tengah. Drone yang bernilai sekitar 14.000–15.000 dolar per unit ini dirancang sebagai alternatif yang lebih murah dibandingkan sistem pertahanan rudal konvensional dalam menghadapi serangan drone Iran.
4. Perkembangan di Israel
Militer Israel menyatakan bahwa Iran kembali menembakkan gelombang rudal ke wilayah Israel pada Jumat pagi. Penduduk di wilayah yang terdampak diminta segera menuju tempat perlindungan.
Israel juga mengklaim telah menyerang sejumlah pos pemeriksaan di Tehran yang dioperasikan oleh pasukan Basij dari Islamic Revolutionary Guard Corps sebagai bagian dari upaya melemahkan kendali keamanan pemerintah Iran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa Israel berpotensi menciptakan kondisi yang mendorong perubahan rezim di Iran, meskipun keputusan tersebut pada akhirnya berada di tangan rakyat Iran sendiri. Ia juga menegaskan bahwa Israel berupaya mencegah Iran memindahkan proyek nuklir dan program rudal balistiknya ke fasilitas bawah tanah.
5. Situasi di Lebanon dan Irak
Sebuah pesawat pengisian bahan bakar udara KC-135 milik Amerika Serikat jatuh di wilayah barat Iraq dan menewaskan seluruh enam awak di dalamnya. Menurut United States Central Command (CENTCOM), kecelakaan tersebut tidak disebabkan oleh serangan musuh.
Irak juga menghentikan sementara aktivitas pelabuhan setelah seorang awak kapal asal India tewas dalam serangan terhadap kapal tanker minyak milik AS di perairannya.
Seorang tentara France dilaporkan tewas akibat serangan drone Iran di wilayah Kurdistan Irak, yang menjadi korban pertama Prancis dalam konflik ini.
Di Lebanon, serangan Israel terus menimbulkan korban jiwa. Pejabat setempat melaporkan sedikitnya 687 orang tewas sejak awal pekan, termasuk 98 anak-anak. Serangan tersebut juga menyebabkan sekitar 700.000 hingga 750.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Di tengah situasi tersebut, Sekretaris Jenderal United Nations, António Guterres, tiba di Beirut dalam kunjungan yang ia sebut sebagai bentuk solidaritas terhadap Lebanon.
B. Update Terbaru Perang Iran VS AS-Israel
Berikut ini adalah Update Terbaru Perang Iran VS AS-Israel.
1. NATO Tembak Jatuh Rudal Iran
Kementerian Pertahanan Turki pada hari Jumat mengatakan sebuah rudal balistik dari Iran telah ditembak jatuh di wilayah udara Turki oleh pertahanan NATO. Ini menjadi insiden ketiga dalam waktu kurang lebih seminggu.
"Sebuah amunisi balistik yang diluncurkan dari Iran dan memasuki wilayah udara Turki dinetralisir oleh aset pertahanan udara dan rudal NATO yang ditempatkan di Mediterania Timur," kata pernyataan kementerian tersebut.
2. Pesawat Militer AS Jatuh di Irak
Empat awak AS tewas ketika pesawat pengisian bahan bakar udara KC-135 milik militer Amerika jatuh di Irak barat. Namun Komando Pusat AS (CENTCOM) menegaskan insiden tersebut bukan disebabkan oleh "tembakan musuh".
"Empat dari enam awak di dalam pesawat telah dipastikan meninggal dunia dan upaya penyelamatan terus berlanjut," kata CENTCOM, yang bertanggung jawab atas pasukan Amerika di Timur Tengah, dalam sebuah pernyataan pada X.
"Investigasi sedang dilakukan terhadap kecelakaan hari Kamis," tambahnya.
"Namun, hilangnya pesawat tersebut bukan karena tembakan musuh atau tembakan dari pihak sendiri."
3. Jerman Ingatkan Amerika Serikat
Pemerintah Jerman menyampaikan peringatan kepada Amerika Serikat terkait kebijakan pelonggaran sebagian sanksi minyak terhadap Rusia. Langkah tersebut, yang dimaksudkan untuk meredam lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah, dikhawatirkan justru berpotensi memperkuat pendanaan perang Rusia di Ukraina. Menteri Ekonomi Jerman, Katherina Reiche, menegaskan kekhawatirannya bahwa kebijakan ini bisa secara tidak langsung menambah sumber dana bagi operasi militer yang dipimpin oleh Vladimir Putin.
4. KTT D-8 Ditunda
Konferensi tingkat tinggi negara-negara anggota D-8 yang mayoritas berpenduduk Muslim mengalami penundaan akibat situasi konflik di Timur Tengah. Informasi ini disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri. Indonesia, yang sebelumnya dijadwalkan menjadi tuan rumah, belum menetapkan jadwal pengganti untuk pertemuan tersebut. D-8 sendiri terdiri dari sembilan negara, yaitu Indonesia, Iran, Azerbaijan, Bangladesh, Mesir, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki.
5. Sekjen PBB Soroti Situasi Lebanon
Sekretaris Jenderal United Nations, António Guterres, mengunjungi Beirut sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Lebanon di tengah eskalasi konflik. Ia menyoroti bahwa warga Lebanon menjadi pihak yang terdampak meskipun tidak memilih terlibat dalam perang tersebut. Sejak awal Maret, serangan yang terjadi telah menimbulkan ratusan korban jiwa. Guterres menegaskan komitmen PBB untuk terus mengupayakan terciptanya perdamaian yang berkelanjutan bagi Lebanon dan kawasan sekitarnya.
6. Peringatan Risiko Penculikan bagi Warga AS
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad mengeluarkan peringatan terkait meningkatnya ancaman penculikan terhadap warga negaranya di Irak. Situasi ini berkaitan dengan memanasnya konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengancam kepentingan AS di kawasan tersebut. Dalam pernyataannya, kedutaan menyoroti bahwa Iran beserta kelompok milisi yang berafiliasi dengannya dianggap sebagai ancaman serius bagi keamanan publik. Selain itu, telah terjadi sejumlah serangan yang menyasar warga, aset, serta infrastruktur penting milik Amerika. Risiko penculikan pun disebut semakin meningkat. Sebelumnya, pemerintah AS juga telah mengimbau warganya untuk segera meninggalkan Irak, terutama setelah eskalasi konflik yang melibatkan serangan terhadap Iran yang menewaskan pemimpin tertingginya, Ali Khamenei.
7. Ledakan Besar Guncang Teheran
Sebuah ledakan dahsyat dilaporkan terjadi di pusat Teheran pada hari Jumat, sebagaimana disiarkan oleh media pemerintah Iran. Insiden tersebut terjadi tidak jauh dari lokasi berlangsungnya aksi demonstrasi pro-pemerintah. Sebelumnya, televisi nasional menayangkan kerumunan massa di Teheran dan sejumlah kota besar lainnya yang berkumpul dalam rangka memperingati Hari Quds, yang juga diwarnai dengan dukungan terhadap perjuangan Palestina. Di sisi lain, militer Israel telah lebih dulu mengeluarkan peringatan akan melakukan serangan ke beberapa wilayah di ibu kota Iran, termasuk kawasan Villa dan Moniriyeh, serta meminta warga setempat untuk segera mengungsi.
8. Ladang Minyak Abu Dhabi Diserang Drone
Fasilitas minyak utama Shah di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, dilaporkan menjadi sasaran serangan drone pada pertengahan Maret. Insiden tersebut memicu kebakaran di area produksi, meskipun hingga kini belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan tambahan yang signifikan. Ladang minyak Shah sendiri memiliki kapasitas produksi sekitar puluhan ribu barel per hari. Pihak berwenang UEA langsung mengerahkan tim penyelamat, pemadam kebakaran, dan tenaga medis ke lokasi, sembari melakukan penyelidikan terkait asal-usul serangan tersebut.
9. Serangan Drone di Irak Picu Kebakaran di Zona Hijau
Sebuah hotel di kawasan Zona Hijau Baghdad yang kerap menjadi tempat menginap diplomat asing menjadi target serangan drone. Kementerian Dalam Negeri Irak melaporkan bahwa sebuah proyektil menghantam atap Hotel Al Rasheed. Meski tidak menimbulkan korban jiwa atau kerusakan luas, insiden ini mempertegas meningkatnya ancaman keamanan di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Otoritas setempat memastikan bahwa proyektil tersebut merupakan drone dan masih menyelidiki sumbernya.
10. IRGC Ancam Tindakan Lebih Keras terhadap Protes
Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menegaskan akan merespons lebih tegas setiap gelombang protes baru terhadap pemerintah. Mereka menyebut pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh berusaha memicu ketidakstabilan setelah gagal dalam konfrontasi militer. Peringatan ini muncul pasca konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, di mana Benjamin Netanyahu dan Donald Trump sempat mendorong perubahan politik di Iran. Gelombang protes sebelumnya dipicu oleh tingginya biaya hidup dan berkembang menjadi aksi besar yang berujung bentrokan dengan aparat. Jumlah korban jiwa masih diperdebatkan, dengan data resmi pemerintah berbeda jauh dari laporan organisasi independen.
11. Israel Klaim Serang Ratusan Target di Iran
Militer Israel menyatakan telah melancarkan serangan terhadap lebih dari 200 target di wilayah barat dan tengah Iran dalam waktu satu hari. Sasaran operasi mencakup peluncur rudal balistik, sistem pertahanan udara, serta fasilitas produksi senjata. Serangan dilakukan melalui puluhan misi udara berskala besar oleh jet tempur.
12. Video Netanyahu Diduga Buatan AI
Sebuah video terbaru yang menampilkan Benjamin Netanyahu menuai kecurigaan warganet karena diduga merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan. Dalam video tersebut, Netanyahu terlihat berinteraksi santai dengan pengawal dan masyarakat di ruang terbuka. Namun, sejumlah pengguna media sosial menemukan kejanggalan visual, seperti bentuk telinga yang tidak proporsional dan cincin yang tampak hilang-muncul di beberapa bagian video, sehingga memicu spekulasi bahwa konten tersebut telah dimanipulasi secara digital.
DAMPAK EKONOMI
Sumber Artikel : CNBC Indonesia
Konflik Rusia-Ukraina :
https://www.blogger.com/blog/post/edit/8444673175287512214/6551062385130765686
Konflik Israel-Palestina (Hamas) :
https://www.blogger.com/blog/post/edit/2490536221435885189/3032416212450687514
Bencana Sumatra 2025 :
https://www.blogger.com/blog/post/edit/2490536221435885189/992799192547094159
Untuk membaca Artikel sebelumnya tentang Konflik Israel-Palestina (Hamas) di Tahun 2023, silakan lihat di sini.
Semoga saja dengan adanya Peristiwa ini, tidak terjadinya Perang yang berkepanjangan, sehingga mengakibatkan Perang Dunia Ketiga.
Terima Kasih 😀😊😘👌👍 :)
Wassalammu‘alaikum wr. wb.

.jpg)
