🛡️ Apa itu Site Reliability Engineering (SRE)?

Assalamu‘alaikum wr. wb.

Hello guys! Kembali lagi bersama Teknoblog di Inzaghi's Blog! Jika kalian merasa frustasi bahwa Situs Web atau Aplikasi tiba-tiba Error, dan dapat menghindari atau mengatasi masalah-masalah tersebut, itulah yang dilakukan oleh Site Reliability Engineering (SRE). Kali ini kita akan membahas mengenai Apa itu Site Reliability Engineering (SRE).

Sumber Artikel : Cake.me, Dynatrace.com, PFLB.us (Blog), AWS.amazon.comAbtasty.com, dan Netapp.com


Pernahkah kalian merasa kesal ketika sebuah situs web atau aplikasi tiba-tiba mengalami gangguan, berjalan lambat, atau bahkan tidak bisa diakses sama sekali? Pernahkah terpikir bagaimana cara mencegah atau menangani masalah semacam itu? Jika iya, kamu mungkin akan tertarik dengan profesi yang dikenal sebagai SRE engineer. SRE merupakan singkatan dari Site Reliability Engineering.

SRE engineer adalah tenaga profesional yang memiliki peran krusial dalam menjaga keandalan serta performa sistem komputer dalam sebuah organisasi. Mereka berfungsi sebagai penghubung antara tim pengembang dan tim operasional IT dengan mengambil alih berbagai tugas operasional yang sebelumnya menjadi tanggung jawab tim IT operasional.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, keberadaan site reliability engineer menjadi faktor penting dalam menjaga kestabilan sistem. SRE engineer dapat dikatakan sebagai perancang di balik ketangguhan infrastruktur teknologi, yang memastikan layanan digital beroperasi secara optimal dan minim gangguan. Mari kita bahas lebih jauh tentang profesi SRE engineer ini!


A. Pengertian Site Reliability Engineering (SRE)

Site Reliability Engineer (SRE) adalah tenaga profesional yang bertugas memastikan sistem komputer dalam sebuah organisasi tetap andal dan berkinerja optimal. Seorang SRE memadukan keahlian software engineering dengan pengetahuan operasional IT untuk mengotomatisasi proses pemantauan, perawatan, serta perbaikan sistem perangkat lunak yang berskala besar dan kompleks.

Selain itu, SRE berfungsi sebagai jembatan antara tim pengembang dan tim operasional IT dengan tujuan meningkatkan mutu, efisiensi, serta keamanan perangkat lunak sebelum dan saat digunakan di lingkungan produksi. Peran ini juga berkontribusi dalam membangun budaya DevOps, yakni budaya kerja yang menekankan kolaborasi, komunikasi, dan integrasi yang erat antara tim pengembangan dan operasional.

Site reliability engineering sendiri merupakan pendekatan yang menerapkan prinsip-prinsip rekayasa perangkat lunak untuk mengotomatisasi berbagai tugas operasional IT, seperti pengelolaan sistem produksi, manajemen perubahan, penanganan insiden, hingga respons darurat—tugas-tugas yang sebelumnya dilakukan secara manual oleh administrator sistem. Inti dari konsep SRE adalah memanfaatkan kode sebagai alat otomatisasi pengelolaan sistem berskala besar, karena pendekatan ini lebih terukur, konsisten, dan berkelanjutan dibandingkan intervensi manual, terutama ketika sistem berkembang atau berpindah ke lingkungan cloud.

Dengan penerapan SRE, potensi konflik antara tim pengembang—yang ingin terus merilis fitur atau pembaruan baru—dan tim operasional IT—yang cenderung berhati-hati agar pembaruan tidak menimbulkan gangguan—dapat diminimalkan bahkan dihilangkan. Konsep SRE pertama kali diperkenalkan oleh Ben Treynor Sloss, Vice President of Engineering di Google, yang menyatakan bahwa “SRE adalah hasil ketika seorang software engineer diminta untuk merancang dan menjalankan tim operasional IT.”

B. Tugas dan Tanggung Jawab Utama dari Site Reliability Engineer (SRE)

Site Reliability Engineer (SRE) memegang peran penting dalam menjaga dan meningkatkan keandalan sistem dengan cara mendeteksi serta mencegah potensi masalah sejak dini dalam praktik DevOps. Salah satu konsep utama dalam SRE adalah error budget, yaitu batas toleransi kegagalan yang diperbolehkan dalam sebuah sistem. Dengan error budget, tim dapat menyeimbangkan inovasi dan stabilitas, tanpa mengorbankan kualitas layanan. Seorang SRE bertanggung jawab memastikan sistem berjalan dengan baik, tingkat kegagalan tetap rendah, serta performa sistem terus dioptimalkan.

1. Pengembangan Perangkat Lunak yang Berorientasi Keandalan

Tugas penting SRE adalah menanamkan prinsip keandalan sejak tahap pengembangan aplikasi. Pendekatan ini membantu organisasi memenuhi Service Level Agreement (SLA) terkait ketersediaan dan performa sistem. Pemanfaatan otomatisasi mengurangi pekerjaan manual, sehingga tim dapat lebih fokus pada pengembangan fitur dan inovasi.

Tim SRE menggunakan berbagai alat untuk monitoring, manajemen insiden, otomatisasi, dan konfigurasi demi meningkatkan keandalan sistem. Salah satu praktik yang sering digunakan adalah Chaos Engineering, yaitu metode untuk mengungkap kelemahan sistem dengan cara mensimulasikan gangguan yang tidak terlihat saat kondisi normal.

Selain itu, penguasaan pipeline CI/CD menjadi hal yang sangat penting agar proses deployment berjalan lancar dan konsisten.

2. Monitoring dan Manajemen Insiden

Monitoring memiliki peran krusial dalam menjaga stabilitas sistem dan meminimalkan gangguan bagi pengguna. SRE mengotomatiskan berbagai proses, termasuk penanganan insiden, untuk meningkatkan keandalan sistem. Platform seperti PagerDuty dan Opsgenie membantu tim SRE mengelola insiden secara efektif melalui notifikasi real-time dan pengaturan jadwal on-call.

Pemahaman terhadap metrik kesehatan sistem SRE—seperti latensi, trafik, tingkat error, dan saturasi—membantu tim mendeteksi potensi kegagalan lebih awal. Penggunaan alat pengujian performa API juga dapat meningkatkan monitoring dan pengujian beban, sehingga sistem tetap skalabel di semua lapisan.

Eksperimen chaos yang dilakukan secara rutin membantu tim mengembangkan strategi respons insiden yang lebih matang dengan membiasakan diri menghadapi skenario kegagalan. Penerapan monitoring dan manajemen insiden yang ketat dapat menekan downtime dan menjaga keandalan layanan.

3. Perencanaan Kapasitas dan Optimasi Performa

Capacity planning yang baik memungkinkan SRE mengatur penggunaan sumber daya secara efisien dan mendukung skalabilitas sistem. Perencanaan yang tepat mencegah pemborosan sumber daya maupun kekurangan kapasitas saat beban meningkat.

Optimalisasi performa dilakukan untuk memastikan sistem tetap cepat dan responsif meskipun berada di bawah tekanan. SRE memantau dan menganalisis metrik penggunaan CPU untuk menemukan hambatan dan meningkatkan efisiensi sumber daya. Upaya optimasi dilakukan secara berkelanjutan guna menjaga ketersediaan tinggi dan performa sistem yang optimal.

C. Manfaat dari Site Reliability Engineering (SRE)

Manfaat dari Site Reliability Engineering (SRE)

Site Reliability Engineering (SRE) menekankan pada keandalan, skalabilitas, dan efisiensi sistem. Penerapan SRE memberikan berbagai manfaat penting, di antaranya :

1. Keandalan dan waktu aktif (uptime) yang lebih tinggi

SRE berfokus pada pencegahan serta penanganan insiden secara proaktif agar sistem dan aplikasi tetap tersedia dan berjalan optimal.

2. Skalabilitas yang lebih baik

Dengan mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan mengurangi pemborosan, SRE membantu organisasi memperluas infrastruktur dan aplikasi secara lebih efisien.

3. Peningkatan pengalaman pengguna

Aplikasi dan layanan yang selalu tersedia dan responsif akan meningkatkan kepuasan pengguna, memperkuat reputasi merek, dan berdampak positif pada pendapatan.

4. Perbaikan berkelanjutan

SRE mengandalkan data dan metrik untuk mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan, sehingga mendorong proses optimasi dan inovasi yang terus-menerus.

5. Keamanan yang lebih kuat

Melalui praktik SRE, sistem dan aplikasi dapat dijaga agar tetap aman serta sesuai dengan standar dan regulasi industri.

6. Performa yang lebih konsisten dan dapat diprediksi

Dengan memantau dan menganalisis pola penggunaan, SRE mampu mengantisipasi serta mencegah masalah performa sebelum terjadi.

7. Efisiensi biaya

Otomatisasi tugas-tugas rutin dan optimalisasi sumber daya membantu menekan biaya operasional, mengurangi ketergantungan pada pekerjaan manual, serta menghemat waktu dan anggaran.

8. Kolaborasi antara tim pengembangan dan operasional

SRE mendorong kerja lintas fungsi dan kepemilikan bersama atas keandalan serta performa sistem, sehingga tercipta budaya kolaborasi dan tanggung jawab bersama.

D. Alat dan Teknologi yang Digunakan oleh Tim SRE

Peralatan dan teknologi memiliki peran yang sangat penting bagi tim Site Reliability Engineer (SRE) untuk mengelola sistem secara efektif dan mengotomatiskan berbagai proses. Khususnya, alat monitoring dan otomatisasi menjadi kunci utama dalam meningkatkan keandalan sistem serta efisiensi operasional.

1. Alat Monitoring dan Peringatan (Alerting)

Penguasaan alat monitoring seperti Prometheus dan Grafana sangat penting untuk memantau performa sistem. Prometheus berfungsi mengumpulkan metrik performa sehingga kondisi kesehatan sistem dapat dipantau secara terus-menerus. Sementara itu, Grafana digunakan untuk memvisualisasikan data dengan menampilkan dashboard yang dapat disesuaikan dan terintegrasi dengan berbagai sumber data.

Selain itu, Datadog juga menjadi alat populer yang menyediakan pemantauan performa serta pencatatan peristiwa (event monitoring) untuk berbagai layanan TI. Alat-alat ini membantu tim SRE mendeteksi masalah sejak dini dan menjaga stabilitas sistem.

2. Alat Otomatisasi dan Manajemen Konfigurasi

Otomatisasi berperan dalam mengendalikan pembuatan server cloud, pengelolaan kapasitas, pengaturan biaya, load balancing, hingga mekanisme failover otomatis. Alat manajemen konfigurasi seperti Ansible dan Terraform digunakan untuk mengatur konfigurasi sistem sekaligus mengotomatiskan proses deployment dalam lingkungan SRE.

Penguasaan version control system seperti Git juga sangat penting untuk mengelola kode secara rapi dan terstruktur. Kombinasi alat-alat ini membantu mempercepat proses pengembangan dan deployment, sekaligus memastikan sistem perangkat lunak tetap andal.

3. Platform Respons dan Manajemen Insiden

Pengelolaan insiden yang efektif membutuhkan proses on-call yang optimal, didukung oleh monitoring dan peringatan otomatis. Platform seperti Blameless menyediakan alat manajemen insiden serta Service Level Objectives (SLO) yang membantu tim SRE memantau dan mengevaluasi proses penanganan insiden.

Integrasi dengan sistem ticketing seperti Jira semakin meningkatkan efisiensi pengelolaan insiden. Dengan dukungan alat-alat ini, kolaborasi antaranggota tim SRE saat terjadi gangguan menjadi lebih baik, sehingga penyelesaian insiden dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.

E. Kemampuan yang Harus Dimiliki Site Reliability Engineer (SRE)

Seorang Site Reliability Engineer (SRE) dituntut memiliki beragam keterampilan dalam mengelola sistem serta menghadapi berbagai persoalan teknis. Agar dapat menjalankan perannya secara optimal, SRE engineer perlu menguasai sejumlah kompetensi penting, di antaranya:

1. Penguasaan Bahasa Pemrograman

SRE engineer perlu memahami setidaknya satu bahasa pemrograman yang sesuai dengan sistem perangkat lunak yang dikelola, seperti Java, Python, Go, atau .NET. Bahasa-bahasa ini digunakan untuk membangun dan memelihara sistem maupun alat pendukung yang membantu proses pengembangan, pengujian, deployment, hingga pemantauan aplikasi.

2. Pemahaman Sistem Operasi

Seorang SRE harus memiliki pengetahuan mendalam mengenai sistem operasi yang digunakan, baik pada sisi server seperti Linux, Windows, atau Unix, maupun pada perangkat klien seperti Android, iOS, dan Windows. Sistem operasi berperan penting dalam menentukan kinerja, keamanan, serta kompatibilitas aplikasi.

3. CI/CD (Continuous Integration / Continuous Delivery)

CI/CD merupakan rangkaian praktik dan alat yang mendukung proses pengembangan perangkat lunak secara berkelanjutan. Dengan CI/CD, SRE engineer dapat menggabungkan kode dari berbagai sumber, melakukan pengujian kualitas dan keandalan sistem, serta mendistribusikan aplikasi ke lingkungan produksi secara cepat dan aman.

4. Pengelolaan Basis Data (MySQL/Oracle)

MySQL dan Oracle adalah contoh Sistem Manajemen Basis Data (DBMS) yang digunakan untuk menyimpan, mengatur, dan mengakses data. SRE engineer perlu memahami DBMS yang digunakan dalam sistem, baik MySQL, Oracle, maupun platform lainnya, karena sistem ini sangat memengaruhi kapasitas penyimpanan, ketersediaan, dan kecepatan akses data.

5. Kemampuan Troubleshooting

Troubleshooting mencakup kemampuan mengenali, menganalisis, dan menyelesaikan masalah atau insiden yang muncul pada sistem perangkat lunak. SRE engineer dituntut sigap dalam menangani gangguan maupun kondisi darurat yang berpotensi menghambat operasional sistem.

6. Kemampuan Layanan Pelanggan (Customer Support)

Selain keterampilan teknis, SRE engineer juga perlu memiliki kemampuan berinteraksi dengan pengguna atau pelanggan. Hal ini mencakup kemampuan berkomunikasi secara jelas, menunjukkan empati, serta bersikap profesional saat memberikan bantuan atau solusi atas permasalahan dan keluhan yang berkaitan dengan sistem.

F. Perbedaan SRE dengan DevOps (SRE vs DevOps) 

SRE vs DevOps

Sumber : Dynatrace.com

Site Reliability Engineering (SRE) merupakan pengembangan dari gagasan inti DevOps dan memiliki hubungan yang sangat erat dengannya, dengan tujuan menjembatani kesenjangan antara pengembangan perangkat lunak dan operasional. Baik SRE maupun DevOps sama-sama berfokus pada penyatuan tim pengembangan dan tim operasional. Tujuan utamanya adalah menghadirkan perangkat lunak secara lebih efisien dengan menyederhanakan proses serta mengurangi hambatan, sebagaimana esensi utama DevOps.

Namun, peran dalam SRE cenderung lebih fleksibel, memungkinkan pergerakan tanggung jawab antar fungsi, sedangkan anggota DevOps biasanya lebih terspesialisasi pada peran tertentu.

Salah satu manfaat utama SRE adalah kemampuannya mendorong kolaborasi yang lebih baik antara tim pengembangan dan operasional, dengan menyelaraskan keduanya pada tujuan yang sama. Kolaborasi ini membantu menghilangkan sekat antar tim (silo) dan menumbuhkan budaya tanggung jawab bersama.

SRE dan DevOps sebenarnya tidak saling bersaing, melainkan beroperasi dengan cakupan yang berbeda di area yang berbeda. DevOps tidak terlalu membahas secara detail bagaimana operasional dijalankan. Sebaliknya, tujuan SRE adalah menerapkan prinsip-prinsip DevOps untuk meningkatkan proses operasional secara lebih mendalam.

DevOps sendiri merupakan filosofi yang luas, di mana prinsip-prinsipnya dapat diterapkan ke berbagai bidang lain, seperti keamanan melalui DevSecOps atau pengiriman perangkat lunak melalui CI/CD. Namun, dalam bentuknya yang paling murni, DevOps lebih erat kaitannya dengan pengembangan dan distribusi perangkat lunak.

SRE menerapkan prinsip DevOps secara khusus untuk memperkuat proses operasional, yang mencakup :

  • Ketersediaan sistem (availability)
  • Pengurangan latensi
  • Peningkatan efisiensi
  • Manajemen perubahan yang lebih sederhana
  • Respons darurat yang andal
  • Perencanaan kapasitas yang akurat

G. Prospek dan Gaji Site Reliability Engineer (SRE) 

Peluang karier sebagai SRE engineer di Indonesia tergolong sangat cerah, seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri digital dan E-Commerce. Banyak perusahaan, baik lokal maupun multinasional, membutuhkan tenaga SRE untuk menangani pengelolaan sistem aplikasi yang kompleks dan beroperasi dalam skala besar. Sejumlah perusahaan yang diketahui mempekerjakan SRE engineer di Indonesia antara lain Shopee, Tokopedia, Moka, dan berbagai perusahaan teknologi lainnya.

Besaran Gaji SRE engineer di Indonesia tidak bersifat tetap, melainkan dipengaruhi oleh pengalaman kerja, kompetensi, serta kebijakan perusahaan tempat bekerja. Mengacu pada data Glassdoor dan Talentup, rata-rata gaji SRE engineer di wilayah Jakarta berada di kisaran Rp13,5 juta per bulan. Nilai tersebut berpotensi meningkat seiring bertambahnya pengalaman dan tanggung jawab, di mana seorang senior site reliability engineer di Jakarta dapat memperoleh rata-rata sekitar Rp26 juta per bulan. Di luar gaji utama, SRE engineer umumnya juga memperoleh berbagai fasilitas tambahan seperti tunjangan, bonus, dan insentif lainnya.


Itulah Pembahasan mengenai Apa itu Site Reliability Engineering (SRE).

Mohon maaf apabila ada kesalahan apapun. Terima Kasih 😄😘👌👍 :)

Wassalamu‘alaikum wr. wb.

Post a Comment

Previous Post Next Post