Assalammu‘alaikum wr. wb.
Hello guys, apa kabarmu hari ini? Pada Awal April lalu tepatnya pada Tanggal 1 April 2026 (12 Syawal 1447 H), 4 Antariksawan (Kru) telah berhasil meluncurkan misi Luar Angkasa Berawak Pertama dalam Program dari NASA ini, yaitu Artemis 2. Kali ini kita akan membahas mengenai Misi Luar Angkasa Artemis II.
MISI ARTEMIS II CETAK REKOR BARU MANUSIA TERJAUH
![]() |
| Ilustrasi Misi Kru Artemis 2 |
Sumber Artikel : Tempo.co
Para astronaut dalam misi Artemis II milik NASA berhasil mencatat sejarah baru sebagai manusia yang mencapai jarak terjauh dari Bumi. Pada Senin, 6 April pukul 12.56 CDT (7 April, 00.56 WIB), mereka melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh Apollo 13 sejak tahun 1970, dengan jarak 248.655 mil.
Pada titik terjauh perjalanan, kru di dalam wahana Orion berada sekitar 252.756 mil atau 406.771 kilometer dari Bumi sebelum berbalik arah, sekaligus menetapkan tonggak baru dalam sejarah eksplorasi manusia di luar angkasa.
Memasuki hari keenam misi, para astronaut NASA—Reid Wiseman, Victor Glover, dan Christina Koch—bersama astronaut dari Canadian Space Agency, Jeremy Hansen, terus mengumpulkan citra Bulan saat menjauh dari Bumi.
Menurut pejabat NASA, Lori Glaze, pencapaian ini mencerminkan semangat untuk menjelajah lebih jauh dan melampaui batas. Ia menegaskan bahwa misi ini bukan sekadar memecahkan rekor, tetapi juga membuka peluang masa depan, termasuk rencana pembangunan pangkalan manusia di Bulan.
Wahana Orion diluncurkan pada 1 April menggunakan roket Space Launch System dari Kennedy Space Center. Setelah keluar dari orbit Bumi melalui serangkaian manuver, wahana melanjutkan perjalanan menuju Bulan.
Setelah mencetak rekor, kru menyampaikan pesan singkat. Jeremy Hansen menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan bentuk penghormatan kepada para pionir eksplorasi antariksa, sekaligus tantangan bagi generasi berikutnya agar melampaui rekor tersebut.
Kru juga mengusulkan penamaan dua kawah di Bulan—satu untuk menghormati wahana mereka dan satu lagi untuk mengenang mendiang istri Reid Wiseman—yang nantinya akan diajukan ke International Astronomical Union setelah misi berakhir.
Selama perjalanan, Orion sempat berada sekitar 4.067 mil dari permukaan Bulan. Para astronaut juga menjadi manusia pertama yang menyaksikan sebagian sisi jauh Bulan secara langsung, serta melihat fenomena gerhana Matahari ketika Bulan melintas di depannya.
Komunikasi sempat terputus selama kurang lebih 40 menit saat wahana berada di sisi gelap Bulan karena terhalang sinyal dari Bumi. Kontak kembali normal setelah Orion kembali terlihat dan terhubung dengan pusat kendali di Johnson Space Center.
Sepanjang misi, kru mengumpulkan berbagai data penting seperti foto, video, dan telemetri yang akan digunakan untuk mendukung misi Artemis selanjutnya, termasuk rencana pembangunan pangkalan di Bulan.
Saat ini, misi Artemis II telah melewati lebih dari setengah perjalanan. Para astronaut dijadwalkan mendarat di perairan dekat San Diego pada Jumat, 10 April, sebelum dievakuasi ke kapal USS John P. Murtha untuk menjalani pemeriksaan medis dan proses pemulihan.
MISI ARTEMIS II MENINGGALKAN ORBIT BUMI
Sumber Artikel : Kompas.id
Empat astronaut yang berada di dalam kapsul Orion pada misi Artemis II berhasil mengaktifkan mesin utama wahana dan melakukan manuver injeksi translunar. Tahapan ini memungkinkan Orion keluar dari orbit Bumi dan kini berada di jalur yang benar menuju sisi jauh Bulan.
Injeksi translunar sendiri merupakan manuver dorongan yang mengarahkan wahana dari orbit Bumi ke lintasan menuju Bulan. Proses penyalaan mesin utama Orion berlangsung selama 5 menit 55 detik pada Kamis (2/4/2026 | 13/10/1447) malam waktu Amerika Serikat, atau Jumat siang waktu Indonesia.
Setelah manuver tersebut berhasil dilakukan, Orion bersama keempat astronaut kini memasuki fase perjalanan menuju Bulan. Keberhasilan injeksi translunar ini disambut dengan rasa bangga oleh kru, yang juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang berkontribusi dalam terlaksananya misi Artemis II.
”Kami hanya ingin menyampaikan kepada semua manusia di seluruh Bumi yang telah bekerja untuk mewujudkan misi Artemis. Kami (antariksawan) merasakan kekuatan dan ketekunan mereka dari setiap detik proses pembakaran yang terjadi,” kata antariksawan Jeremy Hansen (50) dari Badan Antariksa Kanada (CSA), seperti dikutip Space. Ini adalah penerbangan ke luar angkasa pertama Hansen dan dia menjadi orang non-AS pertama yang menuju Bulan.
Keberhasilan tersebut kembali menegaskan bahwa manusia mampu merealisasikan ambisinya. Optimisme akan masa depan yang lebih baik menjadi pendorong utama yang membawa keempat astronaut menjalani perjalanan menuju Bulan. Misi Artemis II juga menjadi tonggak penting, karena merupakan penerbangan manusia pertama yang melampaui orbit Bumi sejak 1972.
Selain Jeremy Hansen, tiga kru lainnya berasal dari NASA, yaitu Reid Wiseman sebagai komandan, Victor Glover sebagai pilot, serta Christina Koch sebagai spesialis misi. Seluruhnya merupakan astronaut berpengalaman yang sebelumnya pernah bertugas di International Space Station. Dalam misi ini, Glover mencatat sejarah sebagai astronaut kulit hitam pertama yang menuju Bulan, sementara Koch menjadi perempuan pertama yang ikut dalam misi tersebut.
Misi Artemis II diluncurkan dari Kennedy Space Center pada Rabu (1/4/2026) sore waktu setempat atau Kamis pagi WIB. Para astronaut diterbangkan menggunakan kapsul Orion yang ditempatkan di puncak roket Space Launch System. Setelah peluncuran, Orion dan awaknya tetap berada di orbit Bumi selama lebih dari 24 jam untuk melakukan serangkaian pemeriksaan sistem sebelum melanjutkan perjalanan ke luar angkasa yang lebih jauh.
Sistem yang diuji mencakup navigasi, mesin, hingga sistem pendukung kehidupan di dalam kapsul, termasuk fasilitas toilet. Ini menjadi momen pertama bagi Orion melakukan perjalanan ke Bulan dengan dilengkapi fasilitas tersebut.
Injeksi Translunar
Setelah tim manajemen misi Artemis II memberikan persetujuan, mesin utama kapsul Orion akhirnya dinyalakan untuk melakukan manuver translunar injection (TLI) pada Kamis malam waktu AS atau Jumat pagi waktu Indonesia Barat (WIB). Manuver ini bertujuan menempatkan Orion pada lintasan ideal untuk mengelilingi Bulan dan kembali ke Bumi tanpa memerlukan manuver besar tambahan.
Mesin utama diaktifkan melalui modul layanan yang berada di belakang kursi awak. Dorongan yang stabil dan berkelanjutan meningkatkan kecepatan Orion hingga mencapai ribuan kilometer per jam. Sebelum peluncuran, Christina Koch menyatakan bahwa setelah TLI berhasil, kru pada dasarnya hanya perlu menyelesaikan sisa tahapan misi.
Proses TLI memanfaatkan mesin manuver orbital Orion, teknologi yang sebelumnya digunakan dalam program pesawat ulang-alik NASA dan telah ditingkatkan untuk mendukung program Artemis. Mesin ini telah digunakan dalam 19 penerbangan luar angkasa pada tiga pesawat ulang-alik berbeda. Jika dianalogikan pada kendaraan darat, performanya setara dengan akselerasi dari 0 hingga 97 km/jam hanya dalam 2,7 detik.
Selain mesin utama tersebut, Orion juga dilengkapi 8 mesin bantu berukuran lebih kecil. Seluruh sistem propulsi ini terpasang pada Modul Layanan Eropa yang dikembangkan oleh European Space Agency, serta didukung oleh pendorong kontrol reaksi yang terletak di kapsul untuk menjaga stabilitas dan arah.
Saat ini, Artemis II berada di jalur yang tepat untuk menjadi misi berawak pertama yang kembali mendekati Bulan sejak Apollo 17 pada Desember 1972. Orion dijadwalkan mengitari Bulan pada hari keenam misi, sekitar 5 hari 1 jam 30 menit setelah peluncuran.
Sepanjang perjalanan, misi ini juga akan mencetak rekor baru sebagai teknologi berawak yang mencapai jarak terjauh dari Bumi. Ketika melintasi sisi jauh Bulan—bagian yang tidak pernah terlihat dari Bumi karena fenomena penguncian gravitasi—Orion diperkirakan mencapai jarak sekitar 406.841 kilometer dari planet asalnya.
![]() |
| Misi Lintasan Artemis II oleh NASA |
Jarak tersebut melampaui rekor sebelumnya sekitar 6.600 km, yang pernah dicapai oleh misi Apollo 13 pada tahun 1970 dengan jarak 400.171 km. Namun, perlu dicatat bahwa pencapaian Apollo 13 itu terjadi akibat situasi darurat yang menyebabkan misi pendaratan di Bulan gagal terlaksana. Setelah Orion mencapai titik terjauh, gaya gravitasi Bulan akan mulai menarik wahana kembali mendekat.
Walaupun manuver injeksi translunar (TLI) mengarahkan Orion menuju Bulan, tahap ini bukanlah titik tanpa kemungkinan kembali. Sistem kendali wahana tetap dirancang fleksibel, sehingga memungkinkan Orion melakukan manuver putar balik secara cepat jika diperlukan, demi membawa awak kembali ke Bumi.
Langkah darurat ini bisa ditempuh apabila terjadi gangguan serius selama misi berlangsung. Menurut Manajer Program Orion, Howard Hu, sebelum peluncuran Artemis II, skenario kembali tercepat memungkinkan kapsul dan awaknya pulang ke Bumi dalam waktu sekitar 36 jam setelah TLI. Jika batas waktu tersebut terlewati, maka opsi yang lebih memungkinkan adalah melanjutkan perjalanan mengelilingi Bulan sebelum akhirnya kembali ke Bumi.
”Tim telah menjalankan ratusan ribu simulasi guna memastikan awak bisa pulang dengan selamat ke Bumi,” tambahnya. Namun, setelah proses TLI berjalan lancar, Hu tersenyum lebar kepada wartawan dan mengatakan, ”Sungguh, ini adalah beberapa hari yang luar biasa.”
A
A
A
ARTEMIS II KEMBALI LAGI KE BUMI
Sumber Artikel : BBC News Indonesia
Setelah menjalani misi bersejarah selama 10 hari mengitari Bulan, empat astronaut dalam misi Artemis II akhirnya kembali ke Bumi pada Jumat (10/04) waktu setempat. Proses kepulangan ini tergolong kompleks sekaligus berisiko tinggi, karena kapsul harus menembus atmosfer dengan kecepatan hampir 35 kali lipat kecepatan suara.
Pada pukul 20.07 malam waktu Pantai Timur Amerika Serikat, kapsul Orion berhasil mendarat di Samudra Pasifik, tepatnya di perairan lepas pantai San Diego, sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh NASA.
Badan Antariksa Amerika Serikat itu mengatakan pendaratan tersebut berlangsung "sesuai buku panduan".
Dalam siaran langsung, terdengar seorang penyiar mengatakan bahwa keempat astronaut berada "dalam kondisi sangat baik".
"Semua berada dalam kondisi yang sangat baik," katanya.
Seorang petugas medis yang pertama kali memasuki kapsul melaporkan bahwa kondisi keempat astronaut berada dalam status “hijau”.
“Istilah ‘hijau’ berarti kondisi mereka sangat baik, bukan merujuk pada warna kulit,” ujar Megan Cruz, perwakilan NASA dari kapal USS John P. Murtha yang bertugas dalam proses evakuasi astronaut.
Tahap kepulangan misi Artemis II sendiri dimulai pada pukul 14.53 siang, ditandai dengan penyalaan pendorong selama delapan detik. Manuver singkat tersebut dilakukan untuk mengoreksi lintasan secara presisi guna memastikan proses pendaratan berlangsung aman.
Tahap paling genting dalam proses kepulangan ini dimulai sekitar pukul 19.53 malam.
Pada fase tersebut, gesekan dengan atmosfer diperkirakan membuat astronaut merasakan gaya hingga 3,9 G. Sementara itu, suhu ekstrem membentuk lapisan plasma di sekitar kapsul yang mencapai kurang lebih 1.650°C.
Saat melaju menembus atmosfer, perisai panas Orion harus menahan temperatur sekitar 2.700°C—sekitar setengah dari panas di permukaan Matahari.
Kondisi ini menyebabkan komunikasi radio terputus total, sehingga pusat kendali misi kehilangan kontak dengan wahana selama kira-kira 6 (Enam) menit.
Memasuki pukul 20.03, sistem otomatis mulai mengembangkan parasut secara bertahap untuk memperlambat laju kapsul hingga sekitar 32 km/jam sebelum akhirnya menyentuh permukaan laut.
Kapsul kemudian berhasil mendarat di Samudra Pasifik pada pukul 20.07 malam, sesuai rencana yang telah ditetapkan.
Tim militer dan penyelamat telah bersiaga di lokasi pendaratan. Setelah kapsul mengapung di laut, sejumlah perahu dengan personel khusus mendekat untuk membantu proses evakuasi astronaut dari dalam kapsul.
Selanjutnya, para astronaut diterbangkan menggunakan helikopter menuju kapal amfibi USS John P. Murtha untuk penanganan lebih lanjut.
Akhir dari sebuah Perjalanan Bersejarah
A
Pendaratan di Samudra Pasifik menjadi penutup dari misi selama 10 hari dengan jarak tempuh lebih dari 1,1 juta kilometer.
Empat astronaut—Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch dari Amerika Serikat, serta Jeremy Hansen dari Kanada—mencatatkan diri sebagai manusia yang menjelajah paling jauh ke luar angkasa dalam sejarah.
Momen kembalinya kapsul ini juga menandai berakhirnya misi berawak ke Bulan pertama setelah lebih dari lima dekade.
Keberhasilan mereka menjadi fondasi penting bagi langkah selanjutnya, sekaligus membuka jalan bagi kembalinya manusia ke permukaan Bulan di masa mendatang.
https://inet.detik.com/cyberlife/d-8448185/rahasia-di-balik-foto-artemis-ii-yang-menakjubkan
https://www.metrotvnews.com/read/NP6CL7Go-menakjubkan-astronot-artemis-2-potret-bentuk-bumi-terkini
James Webb Space Telescope :
https://www.blogger.com/blog/post/edit/8444673175287512214/3494305220832463848
Satelit SATRIA-1 :
https://www.blogger.com/blog/post/edit/2490536221435885189/5367381123902910742
VIDEO
Untuk mengetahui selengkapnya mengenai Misi Artemis II oleh NASA, silakan lihat Video-video YouTube di bawah ini.
Untuk membaca Artikel sebelumnya tentang Teleskop Luar Angkasa James Webb, silakan lihat di sini (IB Legacy). Atau, kalau mau membaca Artikel tentang Satelit SATRIA-1 Asal Indonesia, silakan lihat di sini.
Terima Kasih 😀😊😁👌👍 :)
Wassalamu‘alaikum wr. wb.


